(the post was written entirely in Bahasa Indonesia.)
"Mana mungkin? Mana bisa suatu bangsa besar dikalahkan? Kecuali mereka hanya pura-pura Revolusioner. Pura-pura! Belum apa-apa sudah kibarkan kain kafan! Mereka belum lagi kelaparan! Mereka belum lagi lecet!"
~ dari roman Larasati hal. 134, karya Pramoedya Ananta Toer, 2000.
Sore itu penulis duduk di teras rumah, leyeh-leyeh setelah kepanasan berjemur untuk angkat kamera mendokumentasikan perayaan kemerdekaan Indonesia di kampungnya--belum lagi ia juga habis menyaksikan film aksi perang berlatar Revolusi Indonesia masa Agresi Militer Belanda berjudul Merah Putih di teater mahal suatu mall ibukota. Segelas kopi di tangan kanannya, dan sebatang kretek di tangan kirinya, ia memandang lurus ke lapangan tepat di depan rumahnya, tapi pikirannya tentu tidak berada di tanah 10x26 meter itu. Pikirannya jauuuh melayang, ke arah Banten era J.P Coen, dengan Sultan Agung tampak gagah di atas benteng. Lalu seketika pindah, kini di jaman pra-Proklamasi, melihat tampang-tampang gagah para intelektual yang berkomplot membuat Indische Partij di tahun 1912, lalu sumpah penuh khidmat para pemuda pada 28 Oktober 1928. Belum lagi selesai, pikiran penulis sudah melayang lagi, ke arah jaman pasca-Proklamasi, segala romantisme para seniman jenius angkatan '45. Melihat sosok Chairil Anwar, dan Asrul Sani, gagah berani berorasi lantang menentang pasukan sekutu, ikut morat-marit kebingungan setelah pusat pemerintahan dipindah ke Yogyakarta. Lalu terbit era '50-an, ada sosok Pak Pram yang pernah diwawancara Bapak penulis, W.S Rendra yang baru saja berangkat ke Panggung Apresiasi Kekal. Lalu di era '60-'70, era bahaya menurut Bapak, ada Goenawan Mohammad yang berulang kali ludes dimakan garong Orba, ada Mas Sutardji CB yang nyeleneh dan sempat dianggap aneh. Belum lagi si Sri Paus Kesusastraan Indonesia: HB Jassin. Dan setelah mengambang lama di kilatan sejarah, penulis kembali terdiam. Dengan pelan ia masuk ke kamar tidur, memutar 'Mata Berdebu' milik band 2000-an, SORE.
Kilatan sejarah tadi sempat kembali lagi ketika penulis mulai menekan-nekan tombol di atas remote TV-nya. Semua stasiun TV memutar acara serupa: upacara penurunan bendera. Tradisi feudalistik, berbau militer, bahkan kadang serupa dengan pemujaan buta ala fasis. Upacara, yang walaupun terus diserukan sebagai simbol penghormatan Pahlawan oleh berbagai pihak dan satu upaya penegakan disiplin nasionalisme, namun tetap saja serupa angka nol buat penulis. Bukan, penulis bukan radikal, bukan komunis. Penulis cuma benci hierarki ketat dan birokrasi tidak berujung a la militer, kekakuan nihilisme, perintah-perintah dan komando opresif, hubungan majikan-babu itu. Sah-sah saja bilang penulis ini anarkis, toh Chairil Anwar pernah dapat seruan serupa, seperti yang difiktifkan Suman Djaya dalam buku AKU.
Seorang seniman lain yang hadir disitu, bernama Hadimaja, bahkan lebih sarkastis menimpali:
"Anarkis!"
dari buku naskah ‘Aku’ karya Sjuman Djaja, adegan 62, hal. 55.
Penulis mengingat masa sekolahnya dulu, sebuah SMA Katolik di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Teringat seorang guru Sastra yang selalu menolak simbol militerisme seperti upacara itu, yang selalu bilang, "sekolah ini upacara setahun sekali saja! Tujuhbelasan saja. Buang waktu kalau harus tiap senin." Perkataan guru itu terus mengiang di kepala penulis hingga sekarang. Gaung tentang simbol nasionalisme dan jiwa patriotik tidak berkorelasi positif dengan penghormatan dan ketundukan penuh ala militer. "Affandi mesti potong birokrasi Pasukan Sekutu untuk beli cat buat lukisannya, Raden Saleh melukis 'Penangkapan Pangeran Diponegoro' yang kemudian dengan sarkasnya ia berikan kepada pemerintah Belanda." ujar si guru Sastra yang sebenarnya lebih cocok jadi guru Sejarah itu, "Semangat nasionalisme kita itu bukan semangat tunduk, bukan semangat militer kuli, bukan tunggu perintah tapi semangat berontak. Semangat liar. Ki Hadjar toh tidak punya nyali militer, kerjaannya cuma ngendon di perpustakaan dan belajar, tapi dia bisa berontak. Dia bisa bangun Taman Siswa." Sejenak penulis terdiam, terpaku menatap layar kaca 30 inci yang didalamnya berseliweran para pemuda-pemudi dalam balutan pakaian putih-putih, gagah berderap layaknya tentara beriring ke medan perang. Apa budaya militer sudah sedemikian terintegrasi dalam kultur ke-Indonesiaan? Penulis memalingkan mata dari layar kaca dan melihat ke arah meja makan. Bapak tengah terduduk sendiri, menikmati kopi hitam pekatnya dengan khusyuk. Seketika--hampir tanpa sadar--penulis bertanya, "buat apa sih Upacara bendera, pak?"
Bapak menoleh pelan, lalu menjawab kalem, "buat disiplin and spread influence awalnya. Gaya militer toh paling enak buat hal-hal kayak gitu, propaganda pasti jalan kalo di militer. Di orde baru ini relevan banget, tapi sekarang udah nggak begitu...bapak sih nggak ambil pusing, ini cuma simbol. Upacara nggak upacara, bapak tetep Indonesia." Penulis senyum, jawaban Bapak selalu melegakan. Kadang memang tidak selalu lengkap bahkan cenderung loncat-loncat, tapi selalu melegakan. Memang benar, upacara hanya simbol. Bukan kultur untuk direpetisi tiap Senin. Lah, kalau menurut teori psikologi sosial sesuatu yang cenderung diekspos dan dilakukan terus menerus bisa jadi kehilangan meaningnya. Upacara memang bisa jadi terus ter-reinforce, tapi tidak tertutup justru menimbulkan extinction. Maknanya hilang karena sudah terlalu lumrah. Taken-for-granted. Bicara tentang makna hilang, penulis jadi ingat film yang baru saja ia tonton beberapa jam lalu, tapi sudah hilang maknanya. Film Merah Putih, yang sama sekali tidak merah putih. Ya sudah, ada kok putihnya: para bule-bule impor yang ikut menulis naskah dan jadi kru film. Hasilnya? Wah, sebenarnya malu untuk cerita, mengingat tadi penulis sudah menjerumuskan nama-nama intelek Indonesia era lalu, tapi apa boleh buat--maaf, eyang-eyang sekalian--mari kita beralih ke sisi yang kurang intelek.
"Mereka memang konyol. Tidak kenal peluru bedil yang ditujukan ke dada. Tidak kecut hati tubuhnya berlumuran darah. Mereka datang lagi. Datang lagi. Ini membuat mereka yang berlindung dalam benteng semakin ketakutan. Kalau mereka mati, mereka mati di tanah orang, bukan di tanah air sendiri nun-jauh di sana di Nederland. Ini membuat semakin ngeri, apalagi setelah dengar teriak-teriak serbuan dari orang Mataram itu. Teriakan-teriakan itu semakin mendekati benteng dan mengulangi pertempuran yang belum berhasil tempo hari..."
~ dari cerita bersambung "Sang Gubernur Jenderal" oleh Rahmat Ali. Pertama kali diterbitkan sebagai cerita bersambung di harian Sinar Harapan (1 Januari hingga 1 Maret 1974)
Setelah tadi menonton, penulis sempat bercanda sedikit dengan kakak yang memang ikut menonton juga. Membuat istilah "sinetronized" untuk film-film Indonesia yang memang mutunya masih sinetron, kalau tidak secara teknik, ya secara naratif. Beruntunglah penulis dan kakaknya bisa bicara banyak di dua area itu: kakak penulis lama berkecimpung di dunia seni visual, sehingga jangan kaget kalau sekaliber Stanley Kubrick pun masih suka dicela karyanya oleh dia. Penulis suka memperhatikan aspek naratif dan penceritaan, ilmu yang tengah getol-getolnya ia geluti. Melalui pendekatan semiotik klasik, analisis mitologi dan archetype hingga perkembangan kognitif, penulis dengan mudah meng-amburadul-kan macam-macam cerita, mengintip detil-detil kecil yang tidak koheren dengan gambaran besar.
Perpaduan kritikus teknik plus cerita ini tadi sempet meringis-ringis di dalam studio bioskop menyaksikan betapa Merah Putih, film megah berbiaya besar itu tidaklah menjual banyak. Tenggelam dalam ambisi besar dan berton-ton pyrotechnic untuk kobaran api dan ledakan besar yang benar-benar tidak bergaung. "Yah, nafsu besar tenaga kurang ini sih," umpat kakak penulis mengomentari adegan film. Film ini tidak sempurna untuk kaliber jutaan dolar, "mending nonton 'Serangan Fajar' lagi deh." katanya.
Dimanakah letak kesalahan Merah Putih? Memberikan ekspektasi terlalu besar untuk penonton. Lihat betapa vulgarnya para produser film ini mengumbar janji, dengan dukungan si bule ini, si bule itu, si bule babunya Batman, si bule Star Wars, si bule tukang latih Tom Cruise, pokoknya si bule-si bule serba ditonjolkan. Bahkan sebelum menonton, penulis tahu lebih dulu tentang para bule ini ketimbang isi cerita. Si bule sampai diberi porsi ekstra di banyak adegan film. Moonlight Serenade dan dansa waltz di tengah kampung di Jawa Tengah membuat dada serasa kembang kempis, tak kuasa ingin teriak: KANCUUUUTT!! WESTERNIZED! Belum lagi properti dan segala arahan artistik yang tidak tepat, seragam-seragam para pejuang Revolusi yang seakan serba baru, dan akting "sinetronized" para pemain. Berbanding terbalik dengan literatur pasca Proklamasi yang selama ini tertera di benak penulis: karakterisasi luar biasa, setting detail dan mendalam serta cerita bermutu yang tidak terasa dipaksakan. Tapi jangan lagi ah menimbun kesalahan terus pada si bule...mungkin film Indonesia saja yang memang tengah di masa transisi. Seperti bayi baru lahir, masih merangkak, masih suka mengompol, membuat kesal dan tidak bisa berjalan sendiri. Masih ditunggu suplai naskah bagus serta sumberdaya manusia yang mumpuni. Dan siang tadi penulis ingat email lama dari karib yang bilang kalau Tetralogi Pulau Buru, mulai dari Bumi Manusia hingga Rumah Kaca juga akan segera diangkat ke layar lebar. Kalau yang ini naskah sudah pasti menggiurkan, ditambah iming-iming mas sutradara Garin Nugroho...jadi bermimpi kalau filmnya bisa sefenomenal bukunya yang sudah diterjemahkan ke 33 bahasa itu. Jadi bermimpi kalau film Indonesia bisa cemerlang lagi, seniman Indonesia bisa berkarya kaliber Raden Saleh lagi, intelek Indonesia bisa berargumen seanggun PM Sjahrir lagi. Jadi bermimpi jauh disana para intelek komplotan Indische Partij, para alumni kongres pemuda tahun 1928, para seniman, para politikus, para pejabat militer era tua tersenyum melihat kami disini sekarang, para pemuda era baru menyongsong masa depan, yang semoga saja tidak sekelam masa jajah Belanda, Sekutu atau Jepang dulu. Hambatan kami memang beda, eyang-eyang, buyut-buyut, tidak lagi musuh berdarah-daging, tapi copet-lari-cepat yang namanya ketidakacuhan dan ketidakpedulian, yang tanpa sadar dan secepat kilat mengambil suara-suara vokal kami, merampas hak berpikir dan berekspresi kami. Membuat kami menoleh ke arah yang salah. Semoga jangan pemuda tidak lagi berpikir intelek, tidak lagi berlantang, bertegas karena setan cuek bebek yang beraknya menutup mata kami. Yang kelaminnya menempel di etalase, membuat kami berpaling dan hanya menyerahkan diri pada estetika duniawi. Nyalakan korek, bakar kretekmu, tenggak pekat kopimu, lalu berangkat!